Mengintip Edukasi Hidup Sehat Jogja Organik

Tawa lepas, senyum ramah menjadi daya tarik Antoni Kusuma Wardhana ketika menawarkan berbagai sayur buah organik di Pasar Organik Jogja (Pojok). Pemuda yang akrab disapa Pandhana ini tak pelit berbagi cerita asal usul produk yang ia tawarkan termasuk cara budidayanya. “Konsumen berhak tau produk yang ia makan”, ucapnya bersemangat.

Mengusung bendera Jogja Organic, Pandhana tak hanya menawarkan produk sehat dan segar kepada konsumen, namun juga menggandeng petani mitra membudidayakan tanaman secara lebih sehat dan lestari dengan sistem pertanian organik. Jogja Organic bermula dari pengalaman pemuda yang juga sering mengisi berbagai kelas motivasi ini. “Ayahku meninggal karena diabetes”, ucapnya lirih. Pengalaman pahit tersebut mengubah pandangannya tentang pola makan sehat. Terlebih latar belakang keluarga yang dekat dengan pertanian memantapkan hatinya memulai kiprah di bidang makanan organik.

April 2013, Pandhana yang lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada ini memberanikan diri bersama rekannya menyewa lahan seluas 1 ha di kawasan Sleman, Yogyakarta. Ia mempercayakan seseorang untuk mengurus lahan tersebut. Sayang 6 bulan berjalan pengelolaan lahan tersebut belum sesuai harapan. Pandhana pun mengevaluasi teknik yang selama ini ia lakukan.

Akhirnya ia mulai mendekati petani yang terbiasa membudidayakan sayuran dan terbuka untuk menerima teknologi budidaya pertanian organik. Hubungan pertemanan mempertemukannya dengan Sofyan dari Sayur Organik Merbabu (SOM). Kerjasama dengan SOM awalnya dengan memberikan benih kale untuk dibudidayakan. Kami yang akan memasarkan hasil panennya. “Kala itu SOM termasuk yang pertama membudidayakan kale di kawasan itu, dengan menggunakan benih dari kami”, terang Pandhana.

Sukses dengan budidaya kale, Pandhana mengembangkan berbagai komoditas sayuran lainnya seperti bit, kubis ungu, wortel, stroberi, tomat cherry, brokoli, bunga kol, adas, labu, kentang, dan sebagainya. Tak hanya bekerjasama dengan SOM, Pandhana juga menjalin mitra dengan petani lainnya. Kini Jogja Organik memiliki 3 kebun di daerah Kopeng, Pakem, dan Turi. Pandhana menjalin kerjasama dengan 7 kelompok tani yang total beranggotakan sekitar 200 petani.

Setiap minggunya Jogja organik melayani pengiriman lebih ke 10 restoran hotel seperti Aston, Loka-loka Bistro, Lotek Bu Bagyo. Tak hanya itu, dalam seminggu Jogja Organik juga mengirim produk organiknya ke lebih dari 100 konsumen rumah tangga. Produk Jogja Organik bisa diterima pasar selain karena kualitas yang baik, harga bersaing, serta komoditas yang unik.

Pandhana membangun kepercayaan konsumen dengan melakukan sertifikasi terhadap produk organik yang ia pasarkan. “Sertifikasi pertama kami mendapat bantuan dari dinas. Sertiifikasi berikutnya Jogja Organik bekerjasama dengan salah satu perusahaan di Jakarta, “ terangnya.

Kesuksesan Jogja Organik tak hanya dinikmati Pandhana, ratusan petani mitra juga ikut mereguk untung. Harga jual yang diterima petani mitra Jogja Organik lebih mahal hingga 30% dari harga jual yang diterima petani lainnya. Harga jual tersebut juga ditentukan oleh petani. “Kami dari awal memang sudah membangun keterbukaan dengan petani, termasuk mengenai kesepakatan harga, dimana petani berperan dalam menentukan harga jual produk yang ia miliki”, tambah pemuda yang baru menyelesaikan studi Magisternya di Bisnis Administrasi Universitas Gadjah Mada ini.

Hubungan Pandhana dengan petani mitra terjalin erat. Pandhana rutin memantau cara budidaya pertanian organik yang petani mitra lakukan. Tujuannya tentu saja menjaga kualitas produk yang akan dijual Jogja Organik. Pupuk yang digunakan berasal dari kotoran ternak serta seresah tanaman. Sedangkan pengendalian hama penyakit selain menanam tanaman pengusir yang tidak disukai hama, mitranya juga menggunakan pestisida dari bahan alami. “Petani mitra kami biasanya menggunakan bahan-bahan seperti bengkoang, bawang merah, putih, gadung, maupun daun melinjo untuk bahan pestisida nabati”, jelas pemuda kelahiran 1983 silam ini.

Di hilir, Pandhana tak hanya melakukan transaksi jual beli sayur organik, namun ia juga melakukan edukasi gaya hidup sehat. Tak ketinggalam dalam memanfaatkan media sosial, Jogja Organic juga gencar mengedukasi gaya hidup sehta di instagram @jogjaorganic.

Bersama Anjani yang berprofesi sebagai Chef, awal 2017 ini Pandhana membentuk Sakhara Healty Project di daerah Jl Kinanti, Condong Catur. Pengunjung bisa memilih berbagai produk organik dari Jogja Organik termasuk yang sudah diolah menjadi berbagai panganan dan minuman enak namun tetap sehat. Sebut saja selai stroberi, terung belanda, maupun selai ciplukan dan buah kresen hasil kreasi Sakhara Healty Project.

Sebelum mengembangkan Jogja Organik, Pandhana pernah mengecap pekerjaan di beberapa perusahaan besar di bidang kesehatan, perbankan, maupun konsultan. Namun, ketertarikannya pada pertanian memantapkan langkahnya di Jogja Organik.

“Ada yang salah dengan pertanian Indonesia. Penghargaan terhadap petani kurang. Pekerjaan ini dianggap tidak menarik. Mbahku sampai sekarang tidak suka lihat aku mengurus sayuran”, terangnya .

“Padahal pertanian berperan sangat penting, gak ada pertanian kita gak bisa hidup”, tambahnya bersemangat.
Pandhana pun tak sungkan berbagi semangat kepada rekan muda agar menghargai pertanian serta memulai hidup sehat. Termasuk dengan menggandeng mahasiwa Satya Wacana Salatiga mengembangkan website www.jogjaorganik.com.

Pandhana yang bercita-cita membuat Healty Mall tempat berbagai kebutuhan hidup sehat ini kini sedang merintis Healty Tourisme bekerjasama dengan Kementrian pariwisata. Tak lupa ia berbagi tips memulai usaha di bidang pertanian. “ Yang penting tahu passionnya dimana, setiap usaha pasti punya tantangannya,” ujar Ketua Slow Food Youth Network Jogja ini sambil tersenyum. (Le)