Pantang Menyerah: Kunci Sukses Sweet Sundae

Rendahnya harga susu segar di kalangan peternak sapi menjadi keprihatinan Andromeda Sindoro Soekarno, Yuki Rahmayanti serta 3 rekannya sesama mahasiswa semester 4 Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Mereka tertarik mengolah susu segar dari peternakan sapi menjadi es krim yang bisa meningkatkan nilai jual susu. Andro dan rekannya pun mulai pendekatan ke peternak sapi. Apa daya pendekatan dengan gaya mahasiswa yang mereka lakukan belum digubris peternak sapi.

Peternak Antipati

“Peternak antipati dengan kedatangan kami”, terang Yuki mengenang tahun 2008 silam ketika ia memulai bisnis es krim.

Tak patah semangat dengan penolakan yang diterima, mereka evaluasi cara pendekatan ke peternak. Gaya berpakaian yang rapi dan komunikasi yang sebelumnya mereka lakukan membuat jarak dengan peternak.

“Akhirnya kami kembali ke peternak dengan pakaian sederhana dan sandal jepit, dan benar saja peternak lebih terbuka dan mau bekerjasama dengan kami” ujar Yuki tersenyum.

Pintu komunikasi dengan peternak pun terbuka. Mereka menawarkan membeli susu segar dari peternak dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran pada umumnya dengan catatan peternak harus menjaga kualitas susu.

Tantangan berikutnya adalah pembuatan es krim serta tempat pemasaran produk. Kondisi sebagai mahasiswa semester 4 dengan modal terbatas menjadikan mereka harus berpikir keras agar tidak banyak pengeluaran serta tidak mengganggu kegiatan kuliah mereka.

Berdagang di Bekas Kandang Sapi

Tak jauh-jauh dari kampus, lokasi pemasaran awal produk es krim mereka di dekat kantin Fakultas Peternakan UGM. Tepatnya di bekas kandang sapi. Jadi berbekal semangat berwirausaha mereka memberanikan diri menghadap pihak kampus untuk meminjam areal bekas kandang sapi yang sudah tak terpakai. Tentunya dengan dibersihkan terlebih dahulu.

Tantangan selanjutnya sudah menanti, pertama kali membuat es krim mereka banyak mendapat masukan dari karena es krim yang diproduksi terlalu encer. Es krim mereka mudah meleleh dalam hitungan detik. Padahal idealnya es krim meleleh dalam hitungan 4 menit. Awal memulai usaha es krim laku hanya sekitar 10-20  cup/hari. Inovasipun terus dilakukan, hingga tercipta es krim yang bisa diterima pasar dengan varian rasa stroberry, vanila dan coklat. Nama Yogya Es Krim dipilih sebagai merk es krim mereka.

Kesibukan sebagai mahasiswa peternakan tak menghalangi semangat mereka menjalankan usaha es krim. Usaha es krim semakin membaik, namun mereka tetap bisa aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Tercatat Andro yang kelahiran Jakarta, 23 Desember 1987 tetap bisa aktif sebagai Asisten Laboratorium Ternak Unggas Fak Peternakan UGM. Sedangkan Yuki yang kelahiran 11 Juli 1988 ini juga pernah sebagai asisten Laboratorium Industri Ternak Perah Fakultas Peternakan UGM. Bahkan perempuan murah senyum ini pernah menjabat sebagai Wakil ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Ternak Fapet UGM (2007-2009).

Dua tahun memasarkan es krim di lingkungan fakultas peternakan, Andro dan rekannya memperluas pasar dengan membuka outlet di luar kampus. Hingga pada 2011 mereka membuka outlet dan rumah produksi di daerah Lempong Sari Yogyakarta. Perjalanan bisnis mereka pun mendapatkan tantangan, tim yang semua berjumlah lima orang hanya tinggal dua orang yaitu Andro dan Yuki. Dua orang yang awalnya sebagai rekan usaha ini kemudian menjadi sepasang suami istri yang bersama-sama menjalankan usaha es krim.

Ikut Kompetisi

Tak hanya fokus pada peningkatan kualitas es krim dan pemasaran, pasangan ini juga aktif mengikuti kompetisi kewirausahaan. Ketenaran bisnis Andro makin memuncak ketika meraih start-up awards Shell Livewire pada September 2010. Andro mengakui, banyak orang mulai menghubunginya. Selanjutnya tahun 2011 mereka berhasil memenangkan Kompetisi kewirausahaan dengan hadiah senilai 35 juta rupiah. Uang ini kemudian digunakan sebagai tambahan modal menjalankan usaha es krim.

Pasangan yang kini sudah dikaruniai seorang putra ini mengganti nama Yogya Es Krim menjadi Sweet Sundae Es Krim pada tahun 2011. Hal ini karena nama Yogya Es Krim tidak bisa dipatenkan. Pengakuan akan usaha es krim Sweet Sundae kembali mereka dapatkan ketika pada 2014 Andro menjadi Juara 1 Berani Jadi Milyarder di Metro TV serta juara 4 Wirausaha Bank Indonesia Regional Jawa Tengah.

Sweet Sundae terus melakukan inovasi guna meningkatkan kualitas produk. Varian es krim yang sebelumnya hanya ada 3, kini memiliki 9 varian rasa. Bahkan yang unik mereka juga mengembangkan varian es krim premium yang menggunakan bahan alami, organik dengan cita rasa lokal. Sebut saja es krim durian, alpukat, manuk no, Tuman Kofee serta Madu Kurma dengan cita rasa yang khas.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 15.43.16

Sweet Sundae kini telah memiliki 27 distributor di kota-kota besar seperti Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bandung, Bogor, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Solo, Jogya, Malang, Medan, dan Makasar. Mereka juga dipercaya menjadi supplier es krim bagi beberapa institusi besar seperti Catering Vidi group, Catering Nusantara, Hotel IBIS International,  Sidiq management (gule kepala ikan dan ayam pedas wong jowo), Astramobil group, dan banyak institusi lain nya.

Tak hanya di Indonesia, sweet Sundae juga merambah pasar hingga ke mancanegara. Salah satunya Arab Saudi. “Awal mulanya ditantang bikin produk yang bisa diterima masyarakat timur tengah. Terpikirkan menggunakan kurma yang merupakan buah dari negara dikenal dengan kondisi panas ini. Beberapa kali mencoba akhirnya terciptalah kombinasi es krim madu kurma”, kenang Yuki.

Rasa yang unik dan kualitas yang premium menjadi daya tarik sehingga produk ini bisa diterima oleh lidah masyarakat Timur Tengah. Tawaran membuat pabrik disana pun datang. Saat ini masih proses penjajakan, termasuk legalitas. Hasil manis ini tentu tak datang begitu saja perlu usaha keras hingga tercipta es krim madu kurma seperti saat ini.

Karakter kurma yang lengket dan kurang mudah tercampur rata dengan adonan es krim menjadi tantangan tersendiri. Tak hanya  madu kurma produk Sweet Sundae lainnya seperti es krim alpukat dan durian juga cukup diminati masyarakat Timur Tengah.

Edukasi Makanan Sehat

Tak hanya memikirkan untung berjualan, Yuki juga rajin mengedukasi masyarakat tentang makanan sehat. Sweet Sundae menghindari penggunaan sakarin sebagai pengganti gula ataupun artifisial milk sebagai pengganti susu yang harganya jauh lebih murah. “Kita penting tahu kandungan makanan yang kita makan serta efeknya ke tubuh”, terangnya.

Komitmen menjamin kualitas dilakukan Sweet Sundae dengan rutin menguji sampel susu dari peternak minimal 3 bulan sekali. Uji meliputi kadar lemak, protein, air, pH, kandungan logam, angka kuman serta bakteri E. Coli. Tak main-main biaya mencapai 3,5 juta rupiah untuk tiap sampel susu harus mereka gelontorkan. “Lumayan biayanya. Tapi ini sudah menjadi komitmen kami dalam menjaga kualitas”, jelas Andro yang pernah menjadi  Paskibraka DKI Jakarta tahun 2005.

Usaha es krim yang diawali dengan semangat ini kini telah mencapai omzet  80 jt/bulan. Omzet bisa berlipat saat musim kemarau dan saat ramai acara nikah. Hal ini tentu bukan hanya menjadi berkah Sweet Sundae. Peternak pun ikut mendapat limpahan keuntungan. Jika awal merintis usaha mereka hanya membutuhkan 27-35 liter susu segar per hari, kini Sweet Sundae dalam sehari mampu menyerap 154-200 liter susu segar dari peternak. Jumlah ini bisa berlipat saat musim kemarau. Susu ini mereka peroleh dari kerjasama mitra dengan 6 kelompok peternak dan 1 koperasi, total melibatkan 80 peternak di daerah Kaliurang, Yogyakarta.

Pantang Menyerah

Kesuksesan Sweet Sundae tentu tak datang begitu saja. Perlu kerja keras dan kemantapan usaha agar tidak cepat menyerah. Pengalaman tahun 2015, Sweet sundae pernah mengalami pengembalian produk (retur) dari pelanggannya hingga 800 liter/ hari.  Mereka merugi hingga terpaksa harus merumahkan karyawan yang sebelumnya berjumlah 18 orang menjadi hanya 6 karyawan.

Tak patah semangat sepertinya pantas disematkan untuk pasangan Andro dan Yuki. Pengalaman kerugian tahun 2015 menjadikan mereka lebih selektif dalam meningkatkan kualitas es krim termasuk memilih susu yang berkualitas. “Kami biasanya membeli susu diatas harga rata-rata peternak jual dengan catatan susunya harus murni tanpa campuran”, jelas Yuki.

Tahun 2016 menjadi tahun kebangkitan Sweet Sundae, mereka pendekatan ke konsumen Hotel Restoran dan Cafe (Horeca), berkomunikasi dengan baik dan memberikan free sampel hingga 3-4x. Kerja keras ini membuahkan hasil. Produk Sweet sundae yang dikenal memiliki citarasa unik, dibuat dengan bahan berkualitas, serta cukup padat bisa diterima pasar Horeca.

Bahkan pada 2016 Yuki berkesempatan mendapatkan beasiswa kewirausahaan mengenai olahan pangan di Australia. Hasil dari kunjungan di Australia menguatkan tekad Yuki membuat varian es krim berkualitas. Terlebih mendapat jejaring seperti Letusee, yang mengembangkan olahan pangan lokal dan organik. Kolaborasi pun dilakukan seperti membuat es krim sorgum dimana sorgumnya diperoleh dari petani dampingan Letusee.

Guna meningkatkan management Sweet Sundae, Andro dan Yuki menggandeng rekanannya di Fakultas Peternakan UGM. Nur Laili Ma’rufah yang akrab disapa Ufah, bergabung dengan Sweet Sundae sejak 2016. Lulusan Program Pascasarjana Fakultas Peternakan UGM ini juga pernah menjadi Koordinator staf Lembaga Pengkajian Pangan Obat dan Kosmetik (LPPOM MUI DIY).

Tak hanya bergerak di usaha es krim, tahun 2017 pasangan ini juga akan menjajal penjualan eksport produk-produk pertanian indonesia seperti kopi dan kenari. Australia menjadi tujuan utama. “Kalau mau usaha mulai aja dulu jangan mikir modal. Kalau ragu jadi shop shipper dulu. Niat datang cuma beberapa detik kalau dibiarin maka kesempatan bisa hilang”, tambah Yuki memberikan semangat.

Siapa sangka kesuksesan Sweet Sundae saat ini bermula dari Fakultas Peternakan. Pilihan kuliah yang awalnya bukan pilihan utama Yuki dan Andro. Yuki yang semula ingin menjadi arsitek, sudah diterima di jurusan arsitek dan membayar uang pangkal harus memilih berkuliah di bidang peternakan karena desakan orang tua. Sedangkan Andro ingin menjadi dokter dan sudah diterima juga di fakultas kedokteran Jakarta. Sayang karena keterbatasan biaya, Andro memilih melanjutkan kuliah di bidang peternakan. Gagal menjadi dokter, Andro kini merasa bangga atas pilihannya. “Hasilnya sekarang memproduksi makanan yang bisa menyehatkan orang”, imbuhnya. Wah! (Leana.)