Santoso, Sang Dukun Sapi

Ditanya pengalaman kerja, di usia terbilang masih muda Santoso termasuk dalam hitungan orang yang pernah mengecap beberapa pekerjaan. Tak tanggung-tanggung semuanya wiraswasta di bidang pertanian.

Gonta-ganti Pekerjaan

Lulus dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada ia diterima bekerja di salah satu perusahaan farmasi multinasional ternama di Bandung. Sayang restu orang tua tak didapat tuk merantau. Tak kecewa dengan kondisinya saat itu, Santoso yang tak mau diatur kalau bekerja memutuskan wirausaha. Dimulai dengan membuat baglog jamur selama setahun, kemudian pemasaran jamur yang juga selama 1 tahun. Usaha berikutnya yang dicoba Santoso budidaya ayam kampung, jual beli ayam kampung, jual beli pakan ternak, serta penggemukan sapi. Masing-masing dijalani selama 1 tahun kecuali jual beli pakan ternak yang dilakoni selama 3 tahun.

Sapi Perah

Berbagai usaha yang pernah dikecap santosa mematangkan pengalamannya di bidang mengelola usaha. Akhirnya ia memutuskan menekuni usaha sapi perah yang kini sudah ditekuninya sejak 2009. Santosa bisa dikatakan memelihara sapi dari nol, bagaimana tidak disaat sebagian besar rekannya memilih menjadi penambang pasir dengan penghasilan Rp. 100.000,-/hari. Ia memilih jalan berbeda, budidaya sapi perah. Hal yang tak populer di desanya, desa Balongan, Sleman, yang memang berada di lokasi dekat Gunung Merapi.

Pilihan menjadi wirausaha di desanya tak lepas karena Santosa tak ingin terikat dengan jadwal yang biasanya dialami pegawai kantoran. Namun, ada alasan lainnya. Santoso miris melihat kebanyakan tetangganya menjadi penambang pasir di kaki Gunung Merapi.

“Tambang pasir ada batasnya. Lama-lama sumber daya alam akan habis, selain itu tenaga yang dibutuhkan juga jauh lebih banyak”, terang pria kelahiran 10 Maret 1984 ini.

“Kalau orang desa sini bilang badannya sampai boyoken. Tapi kalau budidaya sapi potensi masih besar, sekarang saja 98 % didatangkana dari luar”, tambah Santoso.

Namun semuanya tak berjalan mulus. Budidaya sapi perah Santoso malah mendapat cibiran dari tetangganya.

“Saya sempat di cemooh rekan saya, katanya tak mungkin bisa budidaya sapi perah disini”, terangnya mengenang.

Meyakinkan Tetangga

Namun Santoso tetap mantap dengan pilihannya. Ia tak menghiraukan cemoohan tetangganya. Awalnya santosa membeli hanya beberapa ekor sapi dari tabungannya sendiri. Santoso membekali dirinya dengan belajar dari beberapa buku serta rekannya yang bisa membudidayakan sapi perah. Ketekunannya membuahkan hasil. Sapi perah jenis FH yang ia budidayakan saban hari menghasilkan susu 12-15 liter/ekor. Ia berhasil mematahkan cemoohan tetangganya yang mengatakan mustahil membudidayakan sapi perah. Keberhasilannya pun menjadi inspirasi tetangganya melakukan hal serupa. Sampai akhirnya ia bisa mengajak tetangganya budidaya sapi dan membentuk kelompok sapi perah “Ngudi Makmur Ngeremboko”.

Tak hanya mengajak, Santoso juga membantu mendapatkan fasilitas bantuan sapi dari pemerintah. Hingga ia mendapat bantuan 10 ekor sapi. Masalah tak selesai begitu saja karena begitu sapi perah ada anggota kelompok tak otomatis mau memerah. Pelan-pelan Santoso melakukan pendekatan ke peternak. Mereka biasanya enggan memerah susu karena kekelahan setelah menambang pasir. Tak kehabisan akal, santoso pelan-pelan mengikuti ritme kerja anggota kelompoknya.

Meyakinkan Koperasi

“Awalnya anggota kelompok selesai memerah susu jam 07.00 padahal umumnya susu dijemput koperasi susu jam 05.00. Saya kemudian mendatangi 3 koperasi susu. Koperasi Sarana Makmur Cangkringan, Koperasi Warsa Mulya Pakem, serta UPP koperasi Kalima”, jelas suami Isni Praptiwi ini.

Tujuannya memundurkan jam penerimaan susu di tiga koperasi itu. Permintaan ini tentu saja ditolak ketiga. Tak patah semangat, Santosa tiap hari mendatangi koperasi tersebut dan kembali memohon keringanan penerimaan susu. Perjuangannya membuahkan hasil, setelah 2 minggu pihak koperasi bersedia menerima susu dari kelompok sapi perahnya pada jam 07.00.

Santoso girang walaupun ada pekerjaan tambahan untuknya yaitu mengantar langsung susu dari kelompoknya ke koperasi tersebut. Bagi santoso kerja lebih bukanlah masalah asal ini demi kebaikan kelompoknya.

Akhirnya saban pagi dan sore Santoso menggunakan motor roda tiganya mengantar susu ke koperasi susu. Setahun kegiatan mengantar susu rutin dilakukan Santosa, hingga akhirnya motor roda tiganya tak muat lagi mengirim susu perah hasil kelompoknya. Ia pun pendekatan lagi pada pihak koperasi agar mau mengambil susu perahan kelompoknya. Jamnya tentu saja masih tetap jam 07.00. Usahanya membuahkan hasil, pihak koperasi bersedia menjemput susu hasil perahan kelompok susu perah Santosa.

“Saat itu anggota kelompok belum siap selesai memerah susu sebelum jam 07.00”, jelas ayah dua putra ini.

Tak hanya pendekatan ke pihak koperasi, Santoso pun pendekatan ke anggota kelompoknya. Pelan-pelan mereka mau memajukan jam pemerahan susu sapi. Awalnya susu siap dijemput jam 07.00 kemudian dimajukan 15 menit secara bertahap.

“5 tahun pendekatan ke anggota kelompok, akhirnya dari dijemput jam 07.00 kini susu perah telah siap dijemput jam 05.00”, cerita Santoso sambil terkekeh.

Bergesernya waktu penjemputan ini pun otomatis mengubah ritme kegiatan anggota kelompok. Perlahan mereka beralih dari penambang pasir menjadi pemerah sapi. Terlebih hasil yang diperoleh pemerah sapi juga lumayan.

“Banyak tetangga saya tertarik beralih budidaya sapi perah karena tenaga yang dikeluarkan tak seberat menambang pasir. Mereka masih bisa istirahat tidur siang sekitar 2 jam saja. Tiap pemerah sapi rata-rata punya sapi 6 ekor yang bisa menghasilkan minimal sekitar 72 liter susu segar. Jadi hasil harian mereka tinggal dikalikan dengan harga beli susu segar Rp 5.500,-/liter. Bahkan beberapa langganan seperti Sweet Sunday Es Krim mau membeli susu segar dengan harga Rp 7.000,- tentunya dengan kualitas yang baik” jelas Santoso.

Kebahagian pemerah sapi dengan hasil yang mereka peroleh membuat Santosa girang bukan kepalang. Santoso yang berpenampilan sederhana ini semakin semangat mendampingi kelompoknya. Ia pun dipercaya sebagai Wakil Ketua serta bagian administrasi kelompok tani sapi perah yang ia bentuk.

Perjalanan usaha kelompok yang berlokasi di lereng Gunung Merapi ini tak selalu mulus. Pernah tiga hari berturut-turut susu dari kelompoknya ditolak pabrik langganan karena ditentukan adanya kontaminasi bakteri. Yakin akan kualitas produknya, Santosa mengirim susunya ke pabrik Nestle dan dari hasil tes susu dari kelompoknya tak mengandung bakteri bahkan memiliki kualitas grade 1. Jadilah kini kelompok ini memiliki beberapa langganan yang bisa mengambil susu perah.

Tak hanya mengembangkan kelompoknya, Santoso juga mengajak kelompoknya membantu kelompok lain. Terbukti sejak tahun 2014 kelompok sapi perah Ngudi Makmur Ngeremboko menjadi induk pengembangan kelompok lain. Ada 4 kelompok tani dampingan, totalnya sekitar 60 orang di daerah Umbul Harjo, Sleman.

Dukun Sapi

Memilih usaha budidaya sapi perah bukan berarti Santoso meninggalkan ilmu farmasinya. Ayah dua anak ini juga dikenal sebagai Dukun Sapi karena piawai mengobati sapi termasuk membantu proses persalinan dan membuat pakan fermentasi. Santoso cukup piawai membantu persalinan sapi. Reproduksi sapi ia pelajari secara otodidak. Tak jarang sapi yang sakit dibawa pulang dan dipelihara di rumahnya hingga pulih. Semua ia lakukan tanpa pamrih.

“Jika ada sapi yang akan melahirkan biasanya pemiliknya menghubungi saya dan meminta untuk tidak jauh-jauh dari hp agar bisa dihubungi sewaktu-waktu jika ada kejadian yang memerlukan penanganan lanjutan”, tambahnya.

“Secara umum makanan sapi ada tiga, makanan pokok rumput, makanan tambahan berupa konsentrat, serta makanan pendukung yang kaya vitamin dan mineral. Kandungan protein pakan harus >18%”, terangnya. Kini santoso juga mulai melirik mata ikan sebagai salah satu sumber protein sapi. Tak hanya itu, ia juga melirik indigofera sebagai pakan ternak karena mengandung 40% protein.

Tak hanya bergulat dengan sapi perah. Kelompok Tani Ngudi Makmur juga menanganin penggemukan domba. “Saat ini kelompok sedang mengelola sekitar 300 ekor domba” jelas Santoso. Tak hanya itu, kelompok tani ini juga menjadi lapangan pekerjaan bagi 15 warganya yang bertugas mengelola susu dari petani pemerah susu serta 5 orang tenaga budidaya domba.” Lumayan mereka jadi dapat tambahan penghasilan”, ujar Santoso bangga.

Santoso melebarkan sayap dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pihak untuk pengembangan kelompok taninya, sebut saja Yayasan Dompet Dhuafa,HIFOS, serta Kelompok 7 Negara Maju (G7). Bahkan tahun 2014 lalu kelompoknya mendapat kunjungan dari G-7. Santoso juga mengajak kelompoknya bermitra dengan Sapi Bagus yang berlokasi di Bandung serta aktif dalam Sarasehan Peternak Sapi Indonesia.

Tak mudah tentunya mengelola kelompok tani seperti yang dilakukan Santoso dan rekannya. “Ada 5 anggota kami yang bertugas rutin memberikan pelatihan terkait budidaya sapi serta bertugas menjaga semangat anggota”, jelas Santoso.

Desa Ratusan Biogas

Budidaya sapi perah menghasilkan produk sampingan berupa kotoran ternak. Tak kehabisan akal, Santoso juga mengembangkan biogas. Dimulai dengan swadaya sendiri tahun 2013. Sama seperti memulai usaha budidaya sapi perah, kala itu pun ia menuai cemooh dari tetangga. Bio gas dianggap akan sia-sia karena tak jauh dari tempatnya juga ada yang memiliki biogas, sayang apinya tidak mau menyala.

Namun untuk kesekian kalinya Santoso berhasil mematahkan cemooh tersebut, biogas bisa menjadi sumber memasak di dapurnya. “Sejak tahun 2013 saya tidak membeli gas untuk keperluan memasak” ujar Santoso sumringah.

Tak hidupnya biogas di tempat lain menurut Santoso karena konstruksi yang berbeda. “ Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat membuat konstruksi biogas” terang Santoso. Keberhasilan Santoso akhirnya diikuti juga oleh tetangganya. Kali ini Santoso mengikuti program bantuan biogas dari kementrian ESDM. Tahun 2014 kelompoknya mendapat bantuan 20  unit biogas, program berlanjut tahun 2015 sebanyak 80 unit, 2016 sebanyak 120 unit sehingga total kini sudah ada 221 unit biogas. Jumlah ini akan terus bertambah karena 2017 akan dibangun lagi sebanyak 100 unit biogas. Tak salah jika desanya disebut desa ratusan biogas,

Tak ingin sukses sendiri serta tak pelit berbagi ilmu sangat tepat disematkan pada Santoso. Sebut saja pelatihan biogas untuk persiapan mahasiswaa KKN UGM April 2017 silam. Santoso dengan sabar menceritakan pengalamnnya mengelola biogas di acara kolaborasi dengan Indmira tersebut.(Le)