Sugeng Handoko: Cerita dari Desa

Ekowisata Gunung Api Purba, Ngelanggaran salah satu objek wisata yang diperhitungkan di Yogyakarta. Tak hanya menyajikan keindahan alam yang asri, Desa di kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta ini berhasil mengemas paket wisata desa yang edukatif. Pemasukan yang diperoleh desa mencapai Milyaran rupiah dari sekto ekowisata. Menariknya semua pengelolaan wisata dilakukan oleh masyarakat desa Ngelanggeran.

Sebelum berkembang menjadi daerah wisata, Desa Ngelanggeran termasuk desa yang miskin. Hasil Survei Desa Inkubator Ekonomi Rakyat di Desa Nglanggeran yang diliris  tahun 2009, menunjukkan bahwa mayoritas dari penduduk miskin di Nglaggeran adalah mereka yang berada pada usia produktif antara 20-30 tahun. Keadaan tersebut menunjukan bahwa sektor pertanian yang mayoritas ditekuni oleh sebagian besar penduduk di Desa Nglanggeran telah mengalami proses perubahan sehingga tidak mampu lagi menyerap tenaga kerja muda, akibatnya tingkat pengangguran di Nglageran cukup tinggi.

Kondisi ini tak terlepas dari minimnya sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Bentang berupa bukit kars kapur dan tanah litosol kurang begitu optimal jika dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Pada saat musim kemarau, ketersediaan air sangat terbatas, warga setempat hanya bisa memanfaatkan pengairan dari mata air yang mengalir di lereng gunung purba, itupun dengan kapasitas debit air yang tidak begitu besar, akibatnya produksi pertanian yang dihasilkan mayoritas petani Desa Nglanggeran kurang optimal.

Awal mula pengembangan ekowisata di Desa Ngelanggeran dilakukan oleh Sugeng Handoko bersama seniornya. Mereka tergabung dalam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri  atau Lembaga Sentra Pemuda Taruna Purba Mandiri mulai menanam pohon untuk penghijaun di kawasan Gunung Api Purba Ngelanggeran sekitar tahun 1999. Mereka juga melakukan upaya edukasi, penyadaran kepada masyarakat tentang cara menjaga kelestarian lingkungan Gunung Nglanggeran yang saat itu digunakan sebagai tempat mencari kayu bakar dan batu untuk bahan bangunan oleh penduduk lokal setempat.

“Kebiasaan masayarakat menebang kayu untuk dijual serta mengambil batu di daerah Gunung Api Purba bisa merusak kelestarian kawasan ini, kami mengawali dengan penyadaran ke masyawakat”, jelas Sugeng Handoko, pemuda kelahiran 28 Februari 1988 silam.

Ketertarikan Sugeng mengembangkan pariwisata di Ngelangeran tak terlepas karena keunikan wilayah tersebut. Gunung Nglanggeran yang memiliki luas sekitar 48 ha ini terletak di bagian utara Kabupaten Gunungkidul pada ketinggian sekitar 200-700 mdpl. Struktur batuan gunung ini bukan batuan kapur yang biasanya terdapat di kawasan Gunungkidul, tetapi batuan vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas gunung api yang terjadi selama sekitar 60 juta tahun yang lalu.Nglanggeran memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur serta sebuah kaldera ditengahnya. Deretan gunung batu raksasa ini mempunyai pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik yang dinamakan sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir, dan Gunung Wayang.

Keunikan gunung ini ditambah dengan cerita rakyat termasuk 7 kepala keluarga yang tinggal di puncak Gunung Nglanggeran sebelah timur, konon jika kurang atau lebih akan ada kejadian yang tidak mengenakkan.Nglanggeran juga memiliki berbagai macam flora dan fauna yg langka dan tidak terdapat di wilayah lain. Dengan segala keunikan itu suami Hanim Fathmana ini mempunyai ide mengembangkan gunung ini menjadi obyek wisata.

Walaupun didorong semangat yang tinggi, namun pengembangan Gunung Api Purba Nglanggeran sebagai objek wisata belum mampu menunjukan hasil yang signifikan. Perubahan mulai terlihat pasca tahun 2009, di mana saat itu mulai dikembangkannya konsep kewirausahaan sosial di bidang ekowisata berbasis masyarakat atau comunity based tourism yang digagas oleh Sugeng Handoko.

Bersama sejumlah pemuda di tiga dusun di Nglanggeran, yakni Nglanggeran Kulon, Nglanggeran Wetan, dan Gunung Butak, Sugeng merintis kegiatan pariwisata berbasis lingkungan atau ekowisata. Kebetulan, saat itu Sugeng menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Bukit Putra Mandiri di Desa Nglanggeran sehingga ia leluasa mengorganisasi pemuda.

Pemasaran mulai dilakukan baik ke komunitas, instansi, sekolah, masyarakat umum, maupun biro wisata. Pemasaran ekowisata Gunung Api Purba Nglaggeran tak hanya mencangkup pasar lokal tetapi telah mencapai internasional. Kunjungan wisata ke desa Ngelanggeran hingga ratusan ribu pertahunnya dengan pemasukan Milyaran rupiah.

Sadar akan keberlajutan ekowisata di Ngelanggeran yang kini merupakan kawasan GeoPark UNESCO, Sugeng yang mendapat penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2011 dalam bidang seni budaya dan pariwisata dan The Winner Hilo Green Leader 2015 juga mengembangkan wisata edukasi pertanian peternakan.

“Hal ini tak terlepas karena sebagian besar masyarakat Ngelanggeran sebagai petani”, jelas pemuda penuh semangat ini.

Bersama Kelompok Tani “Kumpul Makaryo”  dan Kelompok Ternak “Purbaya”, Sugeng membuat wisata edukasi pengenalan pertanian dengan paket wisata budidaya padi, hidroponik dan budidaya kambing PE.

“Biasanya paket wisata ini berkelompok dan sangat diminati oleh pelajar”, tambah Sugeng sambil menunjukkan tempat budidaya kambing PE milik warga yang sangat terawat.

Bahkan kini Ngelanggeran telah memiliki Kelompok Pengelola Kakao di Griya Coklat Nglanggeran. Lagi-lagi pengolahan kakao menjadi aneka produk olahan ini dilakukan oleh masyarakat Ngelanggeran. Setiap bulan, Griya Cokelat mampu memproduksi sekitar 6.000 bungkus minuman bubuk cokelat yang dikemas dalam kemasan kecil. Griya Coklat Ngelanggeran bahkan dipercaya oleh Bank Indonesia dan BPTBA LIPI mengisi program pembagian 5000 Cup minuman chocomix dalam rangka memeriahkan HUT 50 LIPI, September 2017 silam. Tak tanggung-tanggung, mereka juga berhasil membawa pulang penghargaan sebagai stand terbaik dan terinteraktif di ajang tersebut.

Keberadaan Griya Coklat Ngelanggeran juga mampu meningkatkan pendapatan petani kakao desa Ngelanggeran. Terlebih hampir semua warga di Ngelanggeran memiliki tanaman kakao yang luasannya mencapai 101 ha. Mereka bersemangat merawat tanaman kakao agar menghasilkan buah berkualitas untuk selanjutnya difermentasi yang bisa meningkatkan nilai jual.

Pengambangan wisata berbasis masyarakat di Desa Ngelanggeran banyak mendapat apresiasi, salah satunya penghargaan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik se-ASEAN oleh ASEAN CBT (community based tourism) Award 2017. Di tangan Sugeng Handoko desa bukan lagi daerah yang ditinggalkan pemuda untuk urbanisasi ke kota. Sugeng yang tegas menolak tawaran pekerjaan di suatu perusahaan bergaji besar, berhasil membangun cerita desa sebagai sumber penghidupan masyarakatnya. Membangun Desa berarti memilih merdeka! (Le)