Think Globally, Eat Locally ala Agritektur

Cerita dimulai ketika Ronaldiaz Hartantyo (Aldi) kuliah di Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 2009 ia berkesempatan kerja praktek di Wae Rebo, Flores. Ia bersama masyarakat membangun arsitektur vernakular, arsitektur yang terbentuk dari proses yang berangsur lama dan berulang-ulang sesuai dengan perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan di tempat asalnya. Vernakular, berasal dari vernacullus yang berarti lokal, pribumi. 3 bulan tinggal pelosok Desa Wae Rebo membuat Aldi belajar banyak hal. Belajar bahwa Indonesia sangat kaya raya, baik dari segi alam, kebudayaan maupun dari segi arsitekturnya.

Selepas dari Flores, Aldi sempat bekerja di Jakarta dan Singapura untuk beberapa proyek Arsitektur. Sekembalinya di Indonesia ia diajak orangtuanya mengunjungi tanah keluarga di Lembang. Ia terkejut karena di tanah tersebut mendadak tumbuh pohon durian yang ternyata hasil biji durian yang terbuang saat iseng makan durian 3 bulan lampau. Moment itu mengingatkan Adli betapa suburnya tanah Indonesia. Padahal di tinjau dari segi arsitektur, tanah yang sudah diperkeras dengan beton itu harga jualnya jauh lebih mahal dari pada tanah mentah. Harganya naik tapi produktivitas tanahnya mati.

Bertolak belakang dengan konsep arsitektur di Indonesia saat ini, dimana kebanyakan arsitektur cenderung untuk menutup tanah, membangun bangunan beton di atasnya, kemudian memindahkan tanahnya ke atap. Hal tersebut juga berefek memberi beban pada bangunan dan sangat tidak ramah pada iklim tropis. Tanah bisa menyimpan air dan panas yang mempengaruhi mikroiklim dalam bangunan. Green roof is not green afterall.

Dari sana Aldi membuat riset kecil-kecilan tentang pertanian Indonesia. “Waktu itu tahun 2012 dan masih sedikit sekali orang yang ngomongin pertanian sebagai sesuatu hal yang seru. Dari sana saya dapat data mengenai Indonesia yang tingkat impornya naik terus, tingkat konversi lahannya naik terus, tingkat urbanisasinya naik terus, tingkat kemiskinan dan penggangurannya naik terus. Indonesia is an agriculturul country but we imported most of our major produce”, ujar Aldi, pria murah senyum kelahiran 4 Febuari 1990.

Aldi lantas tergerak untuk mengajak teman-temannya membuat Agritektur. Agritektur dibentuk pada awal Januari 2013, sifat Aldi yang persuasif akhirnya berhasil membujuk teman-temannya untuk nyemplung bareng mengelola Agritektur. Saat ini tim Agritektur terdiri atas empat orang. Aldi sendiri sebagai Ideation and Design, Rendy Ega sebagai Business and Legal, Adhi Pramudito sebagai Explorer and Operation dan terakhir Robbi Zidna sebagai Architecture and Construction.

Inti dari Agritektur ialah ingin menjadikan agrikultur sebagai hal yang keren dan menjadi bagian dari anak-anak muda. “Awalnya memang sempat ingin membuat toko koperasi yang isinya produk-produk lokal pertanian, tetapi karena isinya anak-anak desain hasilnya kami bergerak di customer experiencenya dalam agrikultur”, imbuh Aldi. Indonesia meskipun potensi alam yang melimpah, seperti tanah yang subur dan iklim yang besar, pertanian selalu dilihat sebagai usaha bagi masyarakat miskin, tua, dan berpendidikan rendah. Jadi, Agritektur memutuskan untuk membuktikan bahwa begitu banyak hal menyenangkan dan keren dengan pertanian.Sebagai contoh, Agritektur mencoba menawarkan berkemah di area pertanian dekat kota. Ada begitu banyak hal yang dialami dan dipelajari hanya dengan tinggal selama satu malam di pertanian.

Dalam agritektur terdapat 3 hal yang ditawarkan yakni Camp on Farm, Pasar Kecil dan Agrimarket. Camp On Farm merupakan suatu konsep ekowisata terintegrasi untuk menyambungkan kembali hubungan masyarakat konsumen dengan petani lokal. Camp on Farm mencari petani keren di seluruh negeri dan mengajak masyarakat mengalami proses pertanian secara keseluruhan dari kehidupan petani. Di satu sisi, orang-orang perkotaan bisa mendapatkan pendidikan tentang pertanian secara langsung, mengurangi jejak karbon dengan makan langsung dari sumbernya, serta memberikan pengalaman dan petualangan yang jelas berbeda dari kehidupan sehari-hari di perkotaan yang sempit dan membosankan. Camp on Farm selain mengedukasi juga berperan secara ekologi di mana konversi lahan produktif di Indonesia semakin mengkhawatirkan, dan menurunnya minat generasi muda untuk petani profesional.

Pasar Kecil merupakan kolaborasi agritektur, creative net dan petani lokal. Pasar kecil juga bisa disebut pasar langganan. Artinya, konsumen bisa memesan langsung produk hasil panen petani. Hasil produk yang dipesan dapat dikirim langsung ke rumah pelanggan.

Berbeda dengan Pasar Kecil, Agrimarket adalah pasar dimana petani menjual produknya langsung ke konsumen, mereka menamainya Parappa (Pasar Para Petani). Konsepnya ialah menghubungkan langsung konsumen dan produsennya. Jadi Konsumen bisa tahu dari mana makanannya berasal. Di lain sisi, petani dapat merasakan interaksi langsung dengan orang-orang yang makan produk mereka, mendapatkan apresiasi langsung sehingga meningkatkan kepercayaan diri dan kebanggaan mereka sebagai petani. Proses ini juga telah memotong jalur distribusi dari makanan tersebut. Interaksi yang terjadi juga membangun sistem kontrol daerah pertanian dan produk yang dihasilkan harus dalam kualitas yang sangat baik. Parappa ini diadakan tiap satu bulan sekali di berbagai tempat seru di Bandung. Lokasi pasar ini juga beberapa kali diadakan di sekolah dasar. Selain memberi keuntungan bagi petani, juga mengedukasi anak-anak tentang pertanian.

Selain tiga kegiatan yang rutin di gelar tersebut, Agritektur juga mengadakan event-event lain yang tak kalah menariknya. Makan Udunan, Balloon Pavillion, Secret Dining, Table to Farm adalah sebagian contoh event menarik yang pernah digelar Agritektur. Hal ini semata-mata untuk membuat pertanian menjadi hal yang keren dan menarik bagi masyarakat luas.

Jalan-jalan, bertukar cerita dengan para petani dan konsumen menjadi hal yang seru. Yang menarik lagi menurut Aldi ialah ketika ada konsumen yang merasa klop dengan produk si petani. “Rasa bahagia bisa mempertemukan mereka” ungkap pria ramah yang juga merupakan CEO IDEAS Indonesia dan Growbox.

Agritektur adalah sebuah komunitas, tidak berusaha menjadi besar secara kapital, tapi nilai dan semangatnya yang ingin agritektur tularkan kepada masyarakat luas. Bahwa agrikultur bisa juga jadi kreatif. Bahwa parameter mencari makan sebaiknya menggunakan bahan yang lokal terlebih dahulu. Bahwa untuk jadi sukses tak harus ke kota. Bahwa jadi petani bisa gaul dan melek teknologi. Think Globally, Eat Locally.

(ras)